Jumat, 16 Juli 2010

PROBLEMATIKA PERADABAN BARAT,
REFLEKSI PROBLEM FUNDAMENTAL TEOLOGI DAN HISTORY KRISTEN
Oleh : Joko Andy*
Dari ujung rambut sampai ujung kaki, masyarakat dunia zaman sekarang merasakan pengaruh peradaban Barat yang diusung oleh arus globalisasi yang bermuara pada pembaratan atau westernisasi. Pengaruh ini pun melekat dalam kehidupan seharai-hari, seperti cara berpakaian, visi kenegaraan dan hubungan antar bangsa, bahkan menghibur diri pun kini orang kebanyakan menggunakan cara dan ukuran-ukuran kesenangan orang Barat. Barat memang sedang menjadi peradaban yang dominan dan menjadi primadona masa kini. Sayangnya, tidak banyak orang yang benar-benar tahu dan paham apa inti sebenarnya dari peradaban Barat itu.
Sepanjang sejarahnya, manusia telah menghadapi banyak tantangan dan kekacauan. Namun belum ada tantangan dan kekacauan yang lebih besar dan serius dari pada kekacauan yang ditimbulkan oleh peradaban Barat seperti saat ini. Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir dari Universitas Islam Malaysia (UIM) yang dikenal cukup baik dalam dunia Barat dan Islam, memandang problem terberat yang dihadapi manusia saat ini adalah hegemoni dan dominasi keilmuan sekuler Barat yang mengarah pada kehancuran umat manusia.
Menurut al-Attas, bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sebagai teoritis belaka. Kebenaran absolut atau mutlak dinegasikan dan kebenarannya dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada kepastian, konsekuensinya adalah penegasian Tuhan dan akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya di Tuhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. Berbagai problem kemanusiaaan muncul sebagai wujud dari kacaunya nilai-nilai. Yang perlu kita ketahui saat ini adalah bagaimana kita menghadapi berbagai problema umat manusia, kita haruslah bersatu dalam visi dan misi serta aksi.
Sebenarnya, mempelajari peradaban Barat tak ubahnya dengan mengupas bawang Bombai, satu persatu siungnya di kupas dari luar, namun secara pasti menuju inti yang sebenarnya tidak ada apa-apanya. Dari lapisan luar sampai lapisan terdalam, peradaban Barat bagaikan bawang Bombai yang melulu kulit sampai kepusat. Secara umum, kajian tentang Barat (oksidentalisme) yang dilakukan oleh bangsa non-Barat memiliki karakteristik dan ciri-ciri yang berbeda dengan kajian tentang Timur (orientalisme) yang dilakukan bangsa Barat. Setidaknya ada beberapa hal sebagai berikut :
1. Orang Barat yang datang dan belajar tentang Timur akan menghasilkan karya-karya ilmiah yang detail tentang aspek-aspek peradaban Timur. Sedangkan orang Timur yang datang ke Barat kebanyakan akan menghasilkan karya ilmiah yang detail tentang aspek-aspek peradabannya sendiri dengan framework peradaban Barat.
2. Orang Barat yang datang ke Timur untuk belajar, akan menghasilkan pandangan-pandangan yang kritis tentang aspek-aspek peradaban Timur. Bukan itu saja, pandangan kritis tersebut digunakan untuk sebagai alat oleh Barat dalam mengambil keputusan agar Barat lebih dalam dan luas lagi mempengaruhi hajat hidup orang-orang Timur. Sedangkan orang Timur yang belajar ke Barat kebanyakan menghasilkan pandangan-pandanga kritis tentang peradabannya sendiri dan malah ikut Barat mengubah aspek-aspek peradaban Timur sesuai arus dari arah Barat.
3. Orang Barat yang datang dan belajar di Timur sedikit banyak menyerap kebiasaan hidup orang-orang Timur hanya sebagai pleasure atau kesenangan saja. Namun sebagian aspek kepribadiannya tetaplah Barat. Sedangkan orang Timur yang belajar ke Barat, tidak sedikit menyerap kebiasaan hidup orang Barat sebagai character building, pembangunan kepribadian yang dianggapnya menuju ke arah yang lebih baik atau positif. Makan tetap tempe namun pemikiran lebih suka kebarat-baratan.
Sejak sekitar 20 tahun lalu, dunia pemikiran Islam di Indonesia sebenarnya mulai memasuki babak atau wajah baru menyusul membanjirnya arus dan pola pemikiran Barat dalam studi keIslaman (Islamic studies). Banyak terdapat perguruan tinggi Islam maupun Kristen di tanah air yang menawarkan program religius atau Islamic studies ala Barat. Sekitar dua dekade lalu, banyak sarjana muslim yang berbondong-bondong pergi ke Barat untuk belajar tentang Islam dengan orientalis. Dan pulang dengan mempromosikan pemikiran-pemikiran serta gagasan-gagasan dan metodologi pengajaran Islam ala Barat.
Menurut prof. Mastuhu, “Jika diamati secara mendalam, studi keIslaman di IAIN dan di tanah air pada umumnya masih banyak didominasi oleh pendekatan normatif (dogmatis) dan kurang wawasan empiris-historis.” Karena itu, menurut para penyokong metode Barat, mempelajarai dan menguasai gagasan para pemikir Barat merupakan suatu “keharusan.”
Masalahnya, tentu bukan hanya belajar, bukan sekedar ajang transfer ilmu belaka lalu selesai begitu saja. Tetapi, sejauh mana para sarjana muslim mampu menyadari berbagai konsekuensi dari alih metodologi dan impor pemikiran itu, terutama dalam masalah yang dalam tradisi sudah mapan (tsawabit -yang oleh Arkoun disebut unthinkable, seperti masalah akidah, otentitas al-Quran, kehujahan hadist Nabi dan sebagainya.) Suatu ide atau teori tidaklah muncul begitu saja, tanpa sejumlah asumsi dan presuposisi. Demikian pula gagasan pemikiran tentunya tidak akan lepas dari konteks peradaban dimana teori itu dilahirkan.
Tanpa menafikan hal-hal yang sifatnya universal dalam setiap pemikiran, tidak dapat dinafikan sama sekali adanya perbedaan-perbadaan prinsipil yang melandasi dan melatarbelakangi suatu gagasan. Sekularisme dan liberalisme yang lahir dari rahim peradaban Barat tidak lepas dari problema sejarah dan keagamaan Kristen di Barat. Jika di telaah secara lebih cermat, ada perbedaan mendasar dan fundamental antara Islam dan Kristen, baik dari segi teologis maupun historisnya. Karena itu, seyogyanya kaum muslim bisa mengambil sesuatu yang bermanfaat dari Barat tanpa harus merubah dan menghancurkamn fondasi bangunan Islam. Tidak perlu mengikuti tradisi kaum pemikir yang telah kecewa dengan doktrin dan sejarah agamanya sendiri, lalu mengaplikasikan metodologi sekuler-liberal dalam memahami Islam.
Tentu saja harus di akui, Barat memang memiliki berbagai keunggulan dalam studi Islam, karena mereka telah menyiapkannya dengan sungguh-sungguh selama ratusan tahun. Literatur-literatur keislaman berhasil mereka himpun dengan baik, sarjana dan pakar-pakar keislaman pun mereka miliki. Dengan keunggulan ekonomi, mereka juga memberikan fasilatas belajar yang wah kepada banyak sarjana muslim diseluruh dunia Islam. Maka tidak heran jika setiap tahun kita melihat sarjana muslim datang ke Barat untuk belajar tentang Islam kepada sarjana-sarjana Yahudi dan Kristen. Sementara itu, hampir tidak ditemukan ada sarjana Yahudi-Kristen yang belajar tentang agama mereka kepada para sarjana muslim.
Belajar kepada siapa saja sejatinya tidak ada masalah, yang terpenting adalah kita harus memahami mana emas dan mana besi karat, mana shampoo dan mana oli. Untuk memahami ini semua tentunya harus dengan persiapan yang matang. Karena untuk menjadi muslim yang berkualitas mutlak diperlukan pemahaman terhadap Islam dan kajian tentang Barat. Karena hegemoni Barat dalam studi keislaman di berbagai perguruan tinggi di Inonesia merupakan hal yang mencengangkan. Paham pluralisme dan metode hermeneutika dalam tafsir al-Quran, liberalisme moral dan sebagainya sudah menyebar layaknya virus ganas atau penyakit menular dan dipelajari di pondok pesantren dan perguruan-perguran tinggi di Indonesia.
Pemerhati non-muslim dan seluruh lapisan umat Islam yang befikir, tetunya bertanya-tanya : Kenapa agama Islam dan umatnya menjadi sasaran yang bertubi-tubi kolinialisme dan kritikan Barat di sebanding dengan agama dan umat lain dalam sejarah umat manusia ? Tidak terdapat kritikan Barat yang bertubi-tubi dan massif selama ratusan tahun kepada Gautama Buddha, Kung Fu Tse, atau Lao Tse berbanding kritikan yang dilemparkan terhadap pribadi dan ajaran Muhammad saw. Hal tersebut terjadi setidaknya ada beberapa hal berikut ini :
1. Kebangkita Islam diatas pentas sejarah telah menantang dakwaan Kristen sebagai agama yang universal untuk seluruh umat manusia.
2. Sejak awal, al-Quran memang telah menentang dasar-dasar keimanan Kristen dan menolak bahwa Allah bisa beranak dan diperanakkan serta hakikat nabi Isa dan ibunya, Maryam.
3. Al-Quran juga telah mengisahkan dengan jelas sikap dan prilaku ketua agama-agam Yahudi dalam menyelewengkan ajaran-ajaran para anbiya dari Bani Israel.
4. Islam telah mengubah tubuh dan jiwa orang-orang Barat secara revolusioner dalam bidang-bidang linguistik, sosial, kebudayaan, keilmuan dan ekonomi.
5. Perluasan pengaruh Islam serta tanah taklukannya keseluruh Timur Tengah termasuk kawasan yang dahulunya adalah kekuasaan kerajaan Binzantium, India dan Afrika dalam waktu yang begitu singkat. Dan selama lima abad mengusasi lalu berdagangan laut Mediterania dan India
6. Islam berpotensi untuk bangkit seperti semula berdasarkan konsep tajdidnya dan mampu menantang hegemoni kebudayaan Barat di masa mendatang.
Bagaimana Meruntuhkan Bangunan Islam ?
Peradaban Barat sejatinya merupakan merupakan ramuan dari unsur-unsur Yunani kuno, Kristen dan tradisi Paganisme Eropa. Meskipun Barat telah menjadi sekuler-liberal namun sentimen keagaman kristen masih melekat erat dalam tubuh Barat dan mewarnai kehidupan mereka. Bila dalam kolonialisme klasik mereka mengusung jargon, “Gold, Gospel dan Glory” sekarang pun semboyan itu tidak berubah dalam beberapa hal. Jika kita teliti secara mendalam, serbuaan AS ke Irak pada tahun 2003 serta dukungannya yang massif terhadap Israel tentunya tidak lepas dari pengaruh serta unsur-unsur “gold, gospel dan glory.” Meski berbeda dalam banyak hal, unsur-unsur Barat sekuler-liberal kadang bisa bertemu dengan kepentingan “misi Kristen” atau “sentimen Kristen.”
Dimasa klasik dulu, seorang misionaris legendaries Henry Martin menyatakan, “Saya datang menemui umat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan pasukan tapi dengan akal sehat, tidak dengan kebencian tapi dengan cinta.” Dia juga berpendapat bahwa perang Salib telah gagal. Karena itu untuk menaklukkan dunia Islam, ia menawarkann resep manjur yaitu dengan, “kata, logika dan cinta.” Dan bukan kekuatan senjata atau kekerasan.
Misionarais lainnya Reimond Lull juga menyatakan hal senada, “Kulihat banyak ksatria pergi ke Tanah Suci di seberang lautan; dan ku pikir mereka akan merebutnya dengan kekuatan senjata; tapi akhirnya semua hancur sebelum mereka mendapatkan apa yang tedinya ingin mereka rebut.” Menurut Eugene Stock, mantan sekretaris editor, “church missionary society”, tidak ada figur yang sehebat Reymond Lull. Lull kata Stock, adalah missionaris pertama bahklan terhebat bagi kaum Mohammedans”. Itulah resep Lull: Islam tidak dapat ditaklukkan dengan “darah dan air mata,” tetapi dengan “cinta kasih dan doa.”
Kekuatan kata yang di padu dengan kasih seperti ungkapan Henry Martin sangat ampuh dalm menaklukkan hati umat Islam. Konon orang Jawa -sebagaimana huruf Jawa- akan mati jika “dipangku”. Jika seorang dibiayai, dibantu, diberi perhatian (kasih) maka akan luluh hatinya, pendapatnya akan goyah, tapi hal ini tidak selalu. Simaklah keyakinan dan pemikiran Ahmad Wahab dan Nur Cholish Madjid yang sengat mudah sekali berubah. Simaklah bagaimana kekuatan ide freedom dan liberalism mampu menggulung sebuah imperium besar Turki Utsmani.
Ketika kaum muslimin tidak memahami Islam dengan baik, tidak meyakini Islam dan minder terhadap peradaban Barat yang megah, maka yang terjadi kemudian adalah imitasi terhadap peradaban Barat yang dikaguminya. Abdullah Cavdet, seorang tokoh gerakan Turki muda menyatakan, “ Yang ada hanya satu peradaban dan itu adalah peradaban Eropa. Karena itu, kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya maupun durinya sekaligus.”
Sekularisme dan liberalism di Barat telah memukau banyak umat manusia. Gerakan pembebasan atau liberation movement di berbagai dunia mendapat inspirasi dari dua peristiwa besar, yaitu “revolusi Perancis” dan “kemerdekaan AS.” Dibawah jargon liberty, equality and fraternity ini jutaan orang tertarik untuk melakukan apa yang disebut sebagai “Kemerdekaan abadi semua bangsa dari tirani politik dan agama.” Dalam konteks Utsmani ketika itu, Sultan Abdul Hamid II di posisikan sebagai kekuatan tiran.
Kekuatan kata dan kasih telah terbukti ampuh dalam menaklukkan hati umat Islam, yang biasanya disimbolkan dengan ungkapan kurang bersahabat atau simpatik, seperti “ortodoks, beku dan berorientasi masa lalu, emosional”. Sejarah menunjukkan kalaborasi cendikiawan Turki, Kristen Eropa dan Zionis Yahudi berhasil menggulung imperium Turki Utsmani. Ironisnya, dua dari empat orang yang menyerahkan surat pemecatan atas sultan Abdul Hamid II pada 1909 adalah non-muslim. Salah satunya adalah Emmanuel Karasu seorang tokoh Yahudi.
Sebagai penutup, kita harus meyakini dengan ilmu bahwa Islam benar-benar agama yang benar dan pandangan hidup yang memiliki sejarah peradaban yang gemilang. “Untuk mempertahankan dan mengembangkan peradaban Islam tidak berarti menolak mentah-mentah masuknya unsur-unsur peradaban asing. Sebaliknya untuk bersikap adil terhadap peradaban lain tidak berarti permisif terhadap masuknya segala macam unsur dari peradaban lain tanpa proses adaptasi.”
Demikian paparan Hamid Fahmi Zarkasyi, direktur INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization). Dua kalimat terakhir dalam pernyataan Hamid tersebut perlu sekali digaris bawahi. Bahwa sejak lahirnya, Islam tidak pernah menolak untuk berinteraksi dengan peradaban lain. Ketika itu, dimasa-masa embrionalnya, Islam telah hidup berdampingan dengan dua peradaban besar yaitu Romawi dan Persia, namun Islam sama sekali tidak minder dan gentar. Secara keilmuan telah terbukti, para cendikiawan muslim mampu menyerap berbagai khazanah keilmuan asing, melalui proses adopsi dan adaptasi yang sebenarnya adalah merupakan proses Islamisasi sains. Proses menolak “radd” dan menetapkan “itsbat” praktis berlangsung dan berkembang dengan baik. hingga peradaban Islam berkembang dan meraih nilai gemilang dimata dunia selama retusan tahun dengan proses semacam itu.
Namun kini, persoalan menjadi lain. Disamping hegemoni Barat yang sangat kuat, tradisi keilmuan dikalangan umat Islam pun menurun. Banyak tokoh muslim yang berfikir denga jalan pintas bahwa keagungan Islam akan bisa dicapai apabila kekuasaan politik mereka pegang. Politik, ekonomi, informasi adalah sector-sektor yang sangat penting yang harus dikuasai, namun hal itu tidaklah lepas dan harus berbasis pada keilmuan yang tinggi. Tradisi keilmuanlah yang mampu membangkitkan suatu peradaban. Mongol dapat mengalahkan Islam di Baghdad dan sekitarnya. Tetapi peradaban yang rendah itu akhirnya jusru terserap oleh peradaban Islam. Maka, jika kita berbicara masalah peradaban maka tidak lain yang harus menjadi perhatian utama adalah faktor ilmu atau tradisi keilmuan yang harus dibangun dikalangan muslim.
Ironisnya, justru dalam kajian keIslaman, tradisi keilmuan ini tidaklah berkembang dengan baik. Bahkan hampir tidak ada perhatian serius dari kalangan muslim Indonesia khususnya untuk melahirkan cendikiawan-cendikiawan yang unggul yang menguasai wacana Islam dan Barat secara komprehensif. Belum ada satu pun perguruan tinggi Islam di Indonesia yang memiliki visi membangan perpustakaan yang lengkap dengan kualitas tinggi seperti yang di miliki Kristen dan yahudi di Barat. Pendidikan pun masih dijalankan dengan pola masal, mengejar target banyaknya mahasiswa dan sarjana yang dihasilkan tanpa terlalu menekankan pada aspek kualitas.
Kita tentunya prihatin dengan meruaknya hegemoni Barat dalam bidang keilmuan dan kajian keIslaman. Pemikiran, metodologi dan peradaban Barat di jiplak begitu saja tanpa filterisasi dan daya kritis yang berarti. Betapa ironinya, selama ratusan tahun kita dijajah Belanda, hampir tidak ada kalangan ulama dan cendikiawan Muslim yang menghujat al-Quran dan menyatakan semua agama itu sama dan semuanya menuju kearah kebenaran dan keselamatan. Menggemanya paham pluralisme agama, penggunaan metode Hermeneutika terhadap tafsir al-Quran dan sebagainya, justru terjadi dan diserap begitu mudahnya pasca kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mendasar dalam Islam pun dibongkar, didekonstruksi tanpa memikirkan dampaknya dengan seksama. Yang lebih merisaukan lagi adalah kesiapan kaum muslim yang masih sangat minim untuk menghadapai zaman baru berupa “perang intelektual.” Bahkan tidak sedikit cendikiawan yang menganggap enteng, seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan pemikiran Islam.
Mungkin banyak yang tidak sependapat denga tulisan ini, perbedaan pendapat kadang bisa dijembatani dan terkadang juga tidak bisa di temukan titik temunya. Karena manusia meyakini jalan hidup dan pikirannya masing-masing. Jika telah begitu, maka kita serahkan kepada Allah swt. Untuk membuktikan kebobrokan komunisme orang harus menunggu hampir satu abad. Mungkin untuk beberapa kasus, kebenaran akan tampak di akherat kelak. Perdebatan Rosulullah saw. dengan delegasi Kristen Najran harus berakhir dengan mubahalah yang akhirnya ditolak oleh delegasi Kristen.
Terkadang, melihat besarnya problema yang dihadapi kaum muslim dunia umumnya dan Indonesia khususnya serta minimnya persiapan kaum muslim untuk menghadapinya, masa depan pemikiran Islam Indonesia memang patut dikhawatirkan. Namun Allah mengingatkan agar kita tidak perlu merisaukan orang-orang yang berlomba-lomba menuju kekufuran (Ali Imron: 176). Tugas kaum muslim sudah jelas yaitu memberi peringatan, memberi penjelasan dan berusaha menunjukkan mana yang hak dan yang batil, masing-masing manusia akan dimintai pertanggungjawabaan atas amalnya sendiri-sendiri kelak di hari penghisaban.
Wallahu A’lam Bisshowab…
Mahasiswa Semester IV (Empat)
Asal Lubuk Linggau Sum-Sel
DISTORSI DOKTRIN & TEOLOGI AGAMA MASEHI
Oleh : Joko Andy
1. Kerancuan Injil Sebagai Kitab Suci Umat Masehi
Kerancuan agama Narani akan kami paparkan terlebih dahulu dari kerancuan kitab sucinya. Karena kitab suci adalah sebuah pedoman yang urgen dalam memahami setiap agama-agama samawi. Seseorang haruslah membaca dan memahami kitab suci yang turun melalu Rosul pembawa agama itu.
Kitab Injil terdiri dari dua kitab yakni Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Perjanjian baru yang terdidi dari empat kitab terdiri dari kisah para Rosul dan surat-surat. Tapi orang Yahudi hanya beriman kepada Perjanjian Lama (Taurot) mereka tidak percaya dengan Injil. Sedang umat Masehi menganggap bahwa Taurat kitab syariat dan Perjanjian Baru sebagai perjanjian utama dan kifarat. Sebenarnya kitab Injil bayak kekurangan dari segi syariat, oleh karena itu mereka harus kembali kepada Taurot, apalagi Isa juga sudah mengatakan sendiri dengan tegas bahwa ia tidak datang untuk menghapus dosa tapi menyempurnakan apa yang dibawa oleh nabi Musa AS.
Kata Injil berasal dari Yunani, asal katanya Euaggelion. Dalam bahasa Yunani artinya hadiah yang diberikan kepada orang yang mendengarkan berita gembira. Bahasa Yunani sebenarnya bukan bahasa Isa sendiri namun bahasa kaumnya. Pada waktu itu adalah bahasa Aramean. Jadi kata Injil tidak pernah disebutkan dalam risalah Almasih atau pada kitab sucinya. Tapi mungkin kata “berita gembira” atau yang menyerupainya dalam bahasa Aramean. Bahasa itu masih bersaudara dengan bahsa Arab dan Ibrani.
Dalam Perjanjian Baru kata Injil dipakai beberapa kali namun bukan berarti kitab tapi berupa kabar gembira atau kabar baik. penggunaan Injil sebagai nama kitab adalah pertengahan kedua abad ke II masehi, ini berari 150 tahun setelah wafatnya Almasih. Hal itu juga telah diungkapkan oleh Ensiklopedia Bablica. Sedangkan al-Quran menggunakan nama Injil karena nama itulah yang popular dikalangan Masehi dan seluruh masyarakat di jazirah. Al-Quran turun setelah enam abad sejak setelah penggunaan nama Injil itu, hingga tidak ada nama lain yang lebih tepat selain Injil untuk mengenalkan kitab yang dibawa Isa Almasih.
Absennya Almasih dari gelanggang orang Yahudi membuat pemalsuan merajalela. Ini terlihat dari surat Paulus kedua kepada Jamaat Tesalonika. “Jangan lekas bingung Dan gelisah baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami.” (Tesalonika: 2:2). Disini terlihat bahwa pemalsuan surat-surat yang berkaitan dengan Almasih sudah terjadi di masa Paulus. Menurut Paulus masa itu bukan hanya pemalsuan surat-surat namun sudah banyak orang yang mengaku sebagai Nabi, banyak yang mengada-ada tentang mukjizatnya seperti halnya yang dilakukan oleh Dostihios Es Samiri yang mengaku sebagai Almasih dan Samson yang mengkau sebagai anak Allah.
Sejarah gereja Romawi menjelaskan tentang peristiwa abad ke II masehi. Waktu itu terjadi perdebatan yang sengit antara umat Masehi tentang keabsahan menganut sistem yang digunakan oleh para filusuf Watsani. Mereka berdebat apakah cara itu dibenarkan. Tapi akhirnya cara itu mereka laksanakan juga. Ini didukung oleh kecerdikan para peneliti dan kritikus umat Masehi. Dalam perdebatan itu juga krisis kejujuran, karena alasan intulah dimulainya babak karangan palsu dan pada masa itu banyak ditemukan karangan palsu.
Pada umumnya, jika para filsuf menganut suatu disiplin ilmu maka ia menulis buku dan menyatakan seolah-olah itu adalah karya cendikiawan, ini bertujuan untuk menarik simpati umum. Padahal tulisan itu tidak ada hubungannya dengan cendikiawan. Begitu juga umat Masehi setelah berdebat dengan filusuf mereka mengarang buku dan menyatakan itu tulisan si anu dari salah seorang murid Almasih atau sorang Uskup besar. Peristiwa seperti itu terjadi abad ke III dan berlanjut beberapa abad lamanya di gereja Romawi.
Sejarawan Masehi mengatakan, ada beberapa penyebab pemalsuan tulisan itu, yaitu :
 Setiap golongan umat Masehi menulis kitab untuk mendukung ide dan akidahnya. Pernyataannya bersumber dari murid Almasih atau tokoh terkenal lainnya.
 Dia antara yang mengaku Nabi atau Almasih palsu, banyak yang mengarang kitab dan karangan-karangan palsu.
 Sebagian besar orang membiarkankan kepalsuan itu berkembang dikalangan mereka.
Keempat Injil yakni Matius, Markus, Lukas dan Yohanes merupakan sumber ajaran Nasrani yang sudah sejak lama di tinggalkan kerena terdapat distorsi dan mitos di dalamnya. Sampai saat ini tidak di ketahui siapa sebenarnya penulis dari pada Injil ini, karena di dalam Injil masih ditemukan kalimat “Matius berkata” atau “menurut keterangan Matius”, tanpa dijelaskan secara tuntas, apakah Matius itu penulis atau penuyusun atau bahkan pemberi ilham. Meskipun ada yang mengatakan bahwa ketiga Injil itu di tulis sendiri oleh Lukas, namun Lukas sendiri mengakui bahwa dia bukanlah saksi mata berbagai peristiwa yang diuraikannya.
Lukas berkata: “Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan tersatur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.” (Lukas 1:1-4).
Dari sini timbullah keragu-raguan ulama Nasrani akan kebenaran Injil. Dalam sejarah gereja Romawi, hal 90, catatan Mizabor, India tahun 1856 antara lain dikatakan : “Banyak diantara umat masehi yang menulis karangan dengan tangannya sendiri dalam menjajakannya, sesudah menasabkan kepada si fulan atau si anu dari teman-teman Almasih atau salah satu uskup besar. Tanda-tanda adanya pemalsuan ini sudah terlihat sejak abad ke-3 masehi dan berlanjut beberapa tahun lamanya, suatu perbuatan yang sangat menyesalkan bukan.”
Peter Mochim dalam bukunya sejarah gereja, cetakan tahun 1860, menyatakan: “Terdapat banyak alasan yang memaksa dipersatukannya semua Injil yang beragam pada abad ke-1 masehi itu dalam satu kitab saja. Sebab pada waktu itu banyak sekali kitab-kitab yang ditulis orang dan menasabkan pada para Rosul yang suci, dan hampir tidak mungkin semua sumber itu dijadikan rujukan dalam menyusun sejarah atau biografi seseorang dengan benar.”
2. Injil Berbicara Tentang Almasih
Kerancuan Injil tidak hanya sampai disitu saja, kehidupan Isa Almasih ternyata membuktikan bahwa antara Injil yang satu dengan yang lain berbeda dalam hal kelahiran, kebangkitan, penyaliban dan kematian Yesus. Begitu juga pendapat kelahiran Yesus dari perut gadis tanpa ayah, hanya disebutkan dalam Injil Matius dan Lukas saja. Bahkan berdasarkan riwayat-riwayat Injil sendiri, dikatakan bahwa kelahiran Almasih diliputi selubung asap tebal. Ada segolongan yang mengatakan bahwa ia tidak dilahirkan tanpa seorang ayah, tapi Yusuf si tukang kayu itulah bapaknya. Kata Injil: “Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.” (Matius: 1:6).
Sementara itu, seorang peneliti agama dari Jerman, Dr. Stras pada tahun 1835, dalam bukunya Life Of Jesus, mengatakan bahwa semua peristiwa yang berkenaan dengan biografi Almasih pada semua Injil dikutip dari khurafat kaum watsani (penyembah berhala). Selanjutnya, Ensiklopedia Britanica mengkritik keras riwayat Injil yang menetapkan malam kelahiran Almasih pada akhir tahun dan dihadiri oleh para penggembala beserta ternak mereka. Padahal bulan Desember di pelestina turun hujan deras, jadi mana mungkin orang berkumpul waktu itu.
Selanjutnya ensiklopedi itu mengatakan bahwa sampai empat abad pertama, 25 Desember tidak pernah dianggap sebagai hari lahirnya Almasih. Namun tanggal kelahiran Almasih di percayakan kepada seorang Rahib yang juga ahli nujum yaitu Daonys. Dia menganggap hari pada tanggal itu sebagai hari suci sejak enam abad yang lalu menjelang kelahiran Isa. Banyak tuhan-tuhan lain yang menetapkan hari tanggal itu sebagai hari lahirnya. Kemudian Rahib itu mengambil tanggal itu, agar ajaran Almasih mudah diterima oleh umat penganut kepercayaan tersebut.
Namun al-Quran dengan tegas mengatakan bahwa kelahiran Isa ialah di saat musim dingin dimana kurma-kurma menjelang matang. Allah berfirman: “Dan goyangkanlah pangkal pohon korma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu..” (Maryam : 25-26).
Riwayat-riwayat Injil sebenaranya bukan hanya beselisih tentang kapan kelahiran Almasih, namun nama dan tempat kelahirannya juga. Injil Matius mengatakan bahwa ia lahir di Bethlehem (Matius 2:1), sedangkan Injil Lukas mengtakan bahwa ia lahir dan dibesarkan di Nazaret (Lukas 4:16).
Rupanya misi ajarannya tidak sesuai dengan apa yang selama ini di impikan oleh Yahudi, oleh karena itulah bangsa Yahudi memusi dan menyusun rencana makar untuk mencelakainya, sampai akhirnya terjadilah penangkapan dan penyaliban atas dirinya, seperti yang telah di uraikan secara terperinci oleh semua Injil yang ada.
Menurut Injil-Injil itu, penyebab utama Yahudi menolak Isa, karena kritikan pedasnya terhadap mereka dan kurang hormatnya terhadap hari besarnya (Sabtu). Isa juga kurang mengindahkan kesucian lahiriyah dan Isa mendoakan kehancuran Yerusalem, Isa juga mengaku anak Allah, ingin mengubah sistem pemerintahan dan menggantinya dengan yang baru dengan alasan bahwa ia adalah pewaaris kerajaan Daud, selain itu pokok ajarannya didasarkan pada persamaan dan persaudaraan manusia. Tapi bangsa Yahudi menitik beratkan pada dua hal, yaitu pengakuan Isa sebagai anak Allah, dan keinginannya untuk merubah sistem pemerintahan.
3. Teologi Agama Masehi
Teologi kaum masehi atau lebih dikenal dengan nasrani atau Kristen sebenarnya berawal dari firman: “Firman itu bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah, ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.” (Yoohanes 1:1-2). Berawal dari ungkapan inilah kemudian Yohanes memulai uraiannya tentang Almasih, kehidupan dan mukjizatnya didalam Injil. Setelah ungkapan itu, Yohanes menuangkan kata-katanya: “Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita dan kita telah melihat kemulyaan-Nya, yaitu kemulyaan yang diberikan kepada-Nya sebagai anak tunggal Bapak, penuh kasih, karunia dan kebenaan.” (Yohanes 1:14).
Yang dimmaksud dengan “firman” disini menurut umat Masehi adalah anak Allah yang independen. Arti dari ungkapn Yohanes itu bahwa firman ketuhanan telah menjelma menjadi manusia yaitu Almasih, itu bertujuan untuk menampakkan kecintaan-Nya kepada seluruh umat manusia dan untuk menyelamatkannya dari siksa yang azali.
Mauritius Relton dalam tulisannya. “Kaum Katholik berkeyakinan, bahwa zat yang semula adalah Allah, menjelma menjadi manusia tanpa meninggalkan sifat-sfat ketuhannan-Nya. Artinya Dia menjelam menjadi salah seorang seperti kita seperti wujud kita yang terbatas waktu dan tempat. Ia tinggal ditengah-tengah kita untuk waktu beberpa lamanya.”
Keterangan ini ditambah oleh Alferd Ghard: “Sesungguhnya Almasih itu adalah tuhan yang sebenarnya seperti juga seorang manusia. Mengingkari salah satu dari kedua sifat ini atau menolak keduanya secara bersamaaan akan menimbulkan perbedaan pendapat. Pendapat yang sudah disepakati bersama adalah bahwa dalam pribadi Almasih kedua sifat itu sudah bertemu.”
Namun sebagai manusia, sudah pasti pangkat atau kedudukan Almasih lebih rendah dibandingkan dengan Allah. Oleh karena itu, Yohanes perlu menjelaskannya, “Sebab Bapak lebih besar dari pada Aku.” (Yohanes 14:28). Walaupun dalam kelasnya berbeda, mengingat sifat ketuhanan yang ada didalamnya, “Aku dan Bapak adalah satu.” (Yohanes 10:30).
Ketika penyusunan injil berkembang luas dikalangan umat masehi, kaisar Konstantin yang agung (321 M) mengumpulkan 300 orang pastur untuk menetapkan akidah Almasih yang sebenarnya. Kemudian mereka juga bermufakat untuk menetapkan Injil yang benar. Namun para pastur tersebut bukannya meneliti Injil dari segi historis dan pertukaran pikiran yang logis, namun mereka menumpuk semua Injil yang ada di bawah meja makan malam yang kudus. Lalu mereka berdoa bersama-sama kepada Allah agar Injil yang benar di angkat ke atas meja dan membiarkan Injil yang salah dan karangan tetap dibawahnya.
Setelah peristiwa itu, kaisar pun mengeluarkan dekritnya. Ia menyatakan bahwa semua injil yang berbeda dengan keempat injil itu palsu dan harus dibakar Dan dimusnahkan, selanjunya ia memberi ancaman hukuman mati kepada siapapun yang menemukan, menyimpan, Dan tidak menyerahkan kepada pihak yang berwajib. Maka pada wakttu itu pun ratusan injil di bakar habis.
Peter mochin dalam bukunya sejarah gereja mengatakan bahwa keputusan kaisar itu dalam mengeluarkan dekri itu salah dan tidak masuk akal. Namun seelah itu, kaisar sendiri pun menyesal Dan merasa bersalah karena terlalu gegabah atas keputusannya. Kaisar juga memerintahkan agar kitab-kitab golongan aeros di musnahkan Dan par pengikutnya di asingkan kes uatu negeri. Namun setelah beberapa tahun kemudian (330 M) , ketika baginda akan menninggal dunia, saudar perempuannya memberanikan diri mengatakan kepadanya bahwa keutusan yang di ambil terhadap dolongan aeros idak berdasar pada kebenaran, kepuusan iu seata-maa karena rasa permusuhan terhadap goolongan itu. Setelah mendengarkan penuturan adiknya, ia lalu membatalkan dekritnya, tapi aeros meninggal dunia sebelum kepetusan itu terimanya.
SEJARAH YAHUDI PRA ISA ALMASIH AS
Oleh : Joko Andy
Sejak meninggalnya Nabi Sulaiman AS, bangsa Yahudi mengalami keretakan dan akhirnya terpecah dua. Di negara sebelah utara bernama Israel dan sebelah selatan bernama Yahuda. Terpecahnya negara itu secara otomatis mengakibatkan bangsanya pun terpecah belah dalam berbagai kelompok, ada yang mendukung Israel dan ada yang mendukung Yahuda, ada juga yang anti pati terhadap salah satunya ada juga yang anti pati terhadap keduanya keadaan ini berlangsung sampai tahun 722 SM.
Pada yahun itu terjadilah penyerbuan yang dilakukan oleh tentara as-Syiria yang menggilas negara yang ada disebelah utara (Israel) dan menghapusnya dari peta bumi. Kemudian dilanjutkan dengan penghapusan terhadap negara disebelah selatan (Yahuda) yang dilakukan oleh bangsa Babilonia pada tahun 586 SM dan berhasil meratakan tanah dan gereja yang biasa mereka sebut Haekal Sulaiman.
Dalam penderitaan yang berkepanjangan, bangsa Yahudi tidak putus-putusnya mengadu kepada Allah swt seraya memohon agar dibangkitkan untuk mereka seorang raja dari keturunan raja Daud AS yang mampu menumpas musuh dan mengembalikan kejayaan mereka.
Pada pertengahan abad ke-4 SM, pasukan Macedonia yang berada dibawah pimpinan Iskandar Zulkarnaen berhasil melanda Asia dan menghancurkan kuil-kuil umat Majusi di Iran. Setelah itu disusul kembali oleh penyerbuan pasukan Anacios dari Yunani. Pasukan iu berhasil meratakan tanah Haikal Sulaiman kembali, setelah tanah iu dibangun atas dasar izin raja Iran Kaikhasrau. Mereka juga membakar kiab-kitab suci bangsa ini dan menyiksanya dengan penyiksaan yang amat pedih.
Namun bangsa tesebut berhasil melepaskan belenggu penyiksaaan pasukan penjajah yang ganas di bawah pimpinan Yahuda Makkabi. Pemberontakan mereka berhasil menghancurkan tentara penjajah dan mereka kemudian mendirikan Baitul Maqdis pada tahun 167 SM, mereka juga berhasil menyusun kembali kiab Taurot. Tapi sayang, generasi penerusnya mulai menyimpang dari kebijaksanaan politiknya. Mereka mulai melakukan kekejaman terhadap rakyatnya sendiri.
Karena Yahuda Makkabi bukan berasal dari keturunan raja Daud, maka kaum Yahudi terus berdoa agar bangkit raja dari keturunan raja Daud yang mampu mengembalikan kejayaan mereka yang hilang itu. Akhirnya pada tahun 63 SM pemerintahan Makkabi pun berakhir. Mereka dihancurkan oleh pasukan Pompei. Bangsa Yahudi pun bertambah menderita dibawah penjajahan tentara asing yang kejam. Mereka kembali mendekatkan diri kepada Allah dan memohon juru selamat dari keturunan nabi Daud AS.
Dari segi agama, Yahudi memiliki beberapa aliran, dan kelompok, yaitu :
 Kelompok Saduki yang berkeyakinan bahwa manusia meenerima ganjaran dan siksa atas segala perbuatannya hanya didunia saja, mereka tidak mempecayai adanya akherat, kiyamat dan hari pembalasan.
 Kelompok Farisi yang berkeyakinan bahwa kiamat dan hari kebangkitan serta hari pembalasan itu ada. Oleh karena itu mereka menganjurkan unuk meninggalkan lezatnya dunia dan hanya beribadah kepada Allah. Golongan ini mengasingkan diri dari masyarakat dan hanya hidup di gubuk-gubuk kecil dan hanya menyembah Allah semata. Namun gubuk-gubuk iu mereka jadikan sebagai sarang pelacuran Dan perzinahan.
Golongan Rahib yang menjadi juru kunci tempa ibadat dan penuntun ritual agama. Tapi alanghkah cepatnya mereka berubah pikiran dari jalan mulia itu menuju usaha dagang. Mereka memberikan tarif untuk setiap ritual ibadah, yang hendak melaksanakan ritual diwajibkan membayar nadzar atau korban kepada mereka. Bahkan untuk mengesahkan usaha dagangnya, mereka memasukkan karangan sesuai hawa nafsunya kedalam nash-nash Taurat . Seolah-olah nash-nash itu adalah firman Allah swt. mereka itulah yang dituding al-Quran sebagai manusia yang “Mengubah firman Allah sesudah dijelaskan dengan terang.” (al-Maidah: 4).
Ada ahli agama dan Pendeta yang masuk kedalam lapisan masyarakat dan paling merakyat. mereka memonopoli agama untuk dirinya sendiri. Mereka membuat akte pengampunan dosa, menetapkan yang halah jadi haram dan sebaliknya, tergantung dari besarnya uang yang mereka terima seperti yang di isyaratkan oleh al-Quran, “Mereka mengangkat pendeta-pendeta dan ulamanya menjadi tuhan selain Allah.” (at-Taubah: 31). Wal hasil, sebelum turunnya nabi Isa AS, bangsa Yahudi telah menjadikan akidah musyrik, penipu, merubah nash-nash, para ulama berlomba-lomba dalam kejahatan, mengobral ayat-ayat Allah dll. Dalam keadaan seperti itulah Allah mengutus nabi Isa AS.